BERLAPANG DADA DALAM MASALAH PERBEDAAN FIQIH


(Belajar Dari Akhlak Syeikh Al Albani dan Syeikh Shalih As Suhaimi)

‘Iyad Al-Hawamidah menceritakan, Beberapa hari yang lalu di masjid An-Nabawi, sebagian kalangan menyebutkan tuduhan bahwa Syaikh Al-Albani berpaham Irja`, lantas Syaikh Shalih As-Suhaimi (pengajar di masjid An-Nabawi) membantah tuduhan tersebut, lalu beliau bercerita:

“Aku pernah menjenguk Syaikh Al-Albani –semoga Allah merahmatinya– di rumah sakit di Yordania 2 bulan sebelum wafatnya beliau. Waktu itu trombosit beliau harus diganti darah setiap 2 jam, tetapi beliau belum kehilangan akal pikirannya. Lalu seseorang yang bersamaku memperkenalkanku kepada beliau, serta merta Syaikh Al-Albani berkata, ‘Apakah engkau ingin memperkenalkanku dengannya? Yaitu orang yang pernah mendebatku dalam masalah puasa hari Sabtu dan masalah ber-ulangnya shalat jama’ah di masjid?’

Aku pun berkata kepada Syaikh Al-Albani, ‘Wahai Syaikh, aku masih berpegang pada pendapatku yang dulu dalam dua masalah tersebut.’ Maka Syaikh Al-Albani mengenggam tanganku, aku tetap mengingat genggaman tangan beliau sampai sekarang, seraya Syaikh Al-Albani berkata padaku, ‘Begitulah seharusnya para penuntut ilmu agama. Jangan engkau taklid kepadaku dan janganlah engkau taklid kepada orang selainku.’”

Ini menunjukkan tentang kecerdasan beliau dan lapang dadanya beliau dalam menyikapi perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyyah. Tidak merasa paling benar atau memaksa manusia agar taklid buta dan mengikuti pendapatnya, tetapi mengikuti kebenaran dimana dan kapan saja.

(Lihat kisah ini dan kisah-kisah menarik lainnya dalam buku kami "Syeikh Al Albani Dihujat" )

✍ Ust. Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi