Pemberian maaf termasuk dalam kategori mendidik jika:
1. Yang dimaafkan menyadari kesalahannya dan berniat untuk meninggalkannya.
2. Yang dimaafkan adalah seorang tokoh yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan dan tampaknya tidak mungkin mengulanginya lagi.
3. Yang dimaafkan adalah orang yang mengerti, jujur dan bersih serta diprediksi kalau dimaafkan jiwanya akan tersentuh.
Islam sangat menganjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Al-Quran dan hadis-hadis sangat memuji manusia-manusia yang memiliki sifat pemaaf.
Pemaaf juga merupakan salah satu sifat Nabi dan para imam.
Amirul Mukminin as berkata:
"Jika salah seorang pembantumu melakukan kesalahan dan patut menerima sanksi, maka memberi maaf dengan tidak mengurangi sifat adil adalah lebih baik dari memukulnya."
Seseorang mengeluhkan pembantunya kepada Rasulullah Saw. Lalu beliau menasihatinya, "Maafkanlah agar engkau bisa menyembuhkan perasaannya!".
Orang itu berkata lagi, "Orang itu sulit untuk diperbaiki" Rasulullah tetap mengatakan, "Maafkanlah!"
Melupakan kesalahan orang lain dianggap strategi ampuh untuk memperbaiki karakternya, tetapi tidak untuk orang-orang tertentu.
Amirul Mukminin as berkata:
"Memaafkan si lalim akan merusaknya dan memaafkan orang baik akan memperbaikinya."
Seorang pendidik yang baik harus menyelami jiwa masing-masing anak didiknya sehingga tahu mana yang harus dididik dengan cara memaafkannya dan mana yang tidak layak diberi maaf.
0 Comments